make up

“halo” suara bariton terdengar dari ponsel Bianca. Sudah lama ia tidak mendengarnya.

“iya” jawab Bianca, “lo mau ngomong apa, Rey?”

“maaf, Ca” ujar Reynand dari balik telfon, “gue minta maaf”

Bianca tidak menjawab permintaan maaf dari Reynand begitupun sebaliknya, Reynand tidak melanjutkan pembicaraannya. Terdapat keheningan diantara keduanya. Bianca sudah tidak kesal sebenarnya, tetapi ia ingin mendengarkan Reynand memberi penjelasan kepadanya.

“gue takut Ca, gara gara gue sibuk ntar lo nyaman sama orang lain”

“gue juga minta maaf, gue ngga sempet bagi waktu buat lo” suara Reynand semakin merendah dan keluar tulus dari dalam hatinya. Ia tidak suka jika harus saling diam dengan Bianca.

“Rey, that's totally fine”

“it's okay, gue udah bilang kan kalo gue ngga masalah tentang itu? gue kesel soalnya lo nuduh macem macem, itu doang sih”

“iya Ca, maaf”

“it's okay” tegas Bianca lagi, “lo lagi apa?” Ia mengganti topik agar mereka tidak memutus panggilan begitu saja setelah sesi maaf maaf an ini.

“ini belajar, dari tadi abis makan malem” jawab Reynand, Ia tersenyum senang sebenarnya. Sayangnya Bianca tidak melihat.

“lo ngapain?”

“gue juga belajar sih, agak berat ya materinya” Bianca membolak balikkan bukunya.

“iya lumayan juga sih ini”

“ih lo aja yang pinter geo bilang lumayan susah, apalagi gue”

“gatau deh pusing” mendengar Bianca yang sedang menggerutu membuat Reynand semakin tersenyum.

“sinii mana yang gabisa?”

“gue ajarin sampe ke akar akarnya, mau sampe besok pagi?? boleh bolehh”

“lo aja ngga bisa nahan ngantuk, Rey”

“hadeh, apasih yang engga buat lo Ca” Reynand memulai pergombalan khas miliknya.

“okay okay stop, ajarin gue sekarang Rey”