queens boulevard

Walking down Queens Blvd is never a mistake. Udara hari ini bisa dibilang dingin namun sinar matahari masih bisa terasa, berbeda dengan cuaca di Indonesia yang terik dan panas di siang hari.

“eh kelasnya Prof. Dave masih ntar sore, right?” celetuk Hayden menoleh ke arah Warren.

Yang ditanya mengendikkan bahunya, “ngga tau deh gue, ga ikut subject nya dia”

“lo gimana Brand?” Hayden menoleh ke Brandon yang berjalan di belakangnya. “i didn't take his class” jawab Brandon.

“what? really?” Hayden tidak percaya dengan jawaban kedua temannya, “gue doang nih yang ambil?”

“lo ngapain ambil subject dia?” tanya Warren terkekeh pelan, “padahal terkenal susah banget anjrit”

“yaudah gue skip deh”

“HEH” Ale mendorong punggung Hayden, “enak aja skip skip lo”

Warren dan Brandon cekikikan secara bersamaan , “mampus lo”

“iya iya iyaa engGAAaa skip” Hayden kalah dari Ale jika seperti ini. Pasti adiknya akan mengadu kepada mamanya nanti.

“emang dia biasa kek gitu?” Ale menoleh ke Brandon di sebelahnya, “engga juga” jawab Brandon masih tertawa.

“ck, dasar”


“kenyang banget sih ini, enak lagi” Ale melahap satu sendok terakhir rendang di piringnya.

“soalnya lo gue bayarin ya anjrit” Hayden berdiri dari kursinya, “ bentar gue bayar dulu”

“habis banyak ini pasti, r i p my wallet eyy” Hayden membuka dompet nya lalu berjalan ke kasir. Sementara itu Warren pergi ke toilet.

Tinggalah hanya Ale dan Brandon di meja. Brandon menenggak es tehnya—tidak lupa mengunyah es batu di dalamnya, padahal ini musim dingin dengan suhu 7 derajat celcius di luar.

“from what i saw tadi ya kak, lo suka banget kek nya sama rendang” celetuk Ale.

“of course, who doesn't like rendang?”

“hayden”

“he is weird” jawab Brandon sambil mengangkat kedua alisnya. Hayden tidak menyentuk rendang sama sekali, ia hanya memakan sayur padang, ayam pop, dan udang balado.

“wanna go outside? it's kinda dark here” tawar Brandon yang diiyakan oleh Ale. Restoran memang barusaja buka, jadi banyak lampu yang belum sepenuhnya dinyalakan.

Kini mereka berdua berada diluar restoran, mengamati lalu lalang kendaraan yang lewat. Brandon membenarkan jaketnya lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“yok jalan” Warren dan Hayden menyusul keduanya keluar dari restoran khas Indonesia tersebut.

“how's your sleep? udah bisa nyesuaiin time zone sini belum?” tanya Brandon pada Ale. Nafasnya terlihat jelas mengepul di udara.

“gabisa sih, kemarin baru bener bener ngantuk jam tiga” jawab Ale sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, “tapi emang kalo di Indo itu waktu jam tidur siang gue sih, hehe”

Ale menggosok gosokkan kedua tangannya,Ia tampak kedinginan.

“i didn't expect New York City to be this cold”

“did you bring hotpack?” tanya Brandon menolsh memperhatikan gerakan tangan Ale.

“engga, gue belum beli”

Brandon mengeluarkan benda berbentuk persegi tersebut dari dalam saku jaketnya, “nih, tempelin ke tangan”

“what about you? do you have another one?” Ale menerima hotpack dari Brandon dengan ragu ragu.

“don't worry about me, gue bahkan tahan ngga pake jaket” jawab Brandon enteng.

“hah? really?”

Brandon tertawa, “engga heheh”

“udah pake aja nggapapa”