since you were moving out
Sore hari di New York tampak begitu sibuk. Banyak orang yang baru saja pulang kantor, or maybe going out for dinner. There are a lot of restaurants and cafes along the Prospect Park West.
Ale terlihat menikmati donat yang ia bawa di tangannya, sementara itu Hayden sibuk dengan ponselnya.
Ia memperhatikan adiknya sekilas, “enak?”
Ale mengangguk cepat dengan donat yang masih digigitnya, “heem, this is the best donut i've ever had”
Hayden terkekeh, “mau kemana lagi?”
“let's just go back home, gue capek jalan jalan mulu dari pagi”
“yeee gitu tadi lo mau sampe malem, katanya mau ke fifth avenue” cibir Hayden, “gue gas in kalo lo mau”
“masih ada besok kali Den, besok aja kalo gue ngga mager”
“how are mom and dad?” Hayden mengubah topik pembicaraan, “masih sibuk kerja?” Hayden menarik tangan Ale agar berjalan tepat di zebracross.
“mami udah sering kerja di rumah, tapi papa masih sering pulang malem sih” Ale kemudian membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan diterpa angin.
“you know what”
“what?” Hayden menoleh ke Ale di sebelahnya.
“i didn't have someone to talk to since you were moving out” suara Ale merendah.
“lo tau ngga gue kalo curhat sama siapa?”
“faye lah?”
“ya iya sih, maksudnya kalo di rumah terus ngga lagi chatan sama dia”
“sama siapa?”
“sama kiku”
Tawa Hayden pecah, “is that your imaginary friend?”
“siapa kiku anjir?”
“boneka penguin yang lo kasih ituloh ah” jawab Ale kesal. Hayden masih tertawa geli mendengar Ale.
“ohh kirain”
Since his moving to New York for college last year, Ale didn't spend most of her time at home. She was busy hangout with Faye, sekedar jalan jalan di GI buying Sour Sally, watching the latest movies, or going to Starbucks for a venti cup of Caramel Java Chips Frappe. Tapi setelah pulang ke rumah, she still feel lonely. Kedua orangtuanya hampir tidak pernah dirumah. Ale sering makan di atas tempat tidurnya karena tidak ada yang duduk menemani nya menghabiskan makanan di meja makan besar kediamannya.
Mereka tidak melanjutkan percakapan lagi. Ale sibuk mengamati jalanan di sekitar yang terkesan baru untuknya. Ia mengambil beberapa foto, lalu tersenyum kecil setelah melihat hasilnya.
“eh lo kemarin sama Brandon gimana?”
“ga gimana gimana juga, he is cool and nice”
“awalnya awkward banget kak, tapi dia ngajakin gue ngomong terus” Ale tersenyum, lalu mengambil gambar dua ekor burung merpati yang bertengger di kursi taman tidak jauh dari Hayden.
Setelah puas dengan hasilnya, Ia memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya. Tangannya tetap berada didalamnya, menghindar dari dinginnya udara.
“he asked me about the major i chose, what's going on in Jakarta nowadays, then he took me to target for grocery shopping”
“gue lupa beliin nasi padang njir”
“ih iya, lo harus traktir dia kak, awas sampe engga ya” Ale mewanti wanti Hayden.
“iya besok aja, gue kelas siang an”
After walking for minutes, they stop right in front of Ale's apartment. The sun has turned to into the moon, and the street lights are starting to glow brightly along the Herald Blvd.
“gue ngga anterin lo sampe ke atas ya Le, i have to catch a train”
Ale mengangguk mengerti, “iya lo cepetan balik kak, dingin”
“yaudah, lo buruan masuk sana” pinta Hayden.
“eh Le by the way” seru Hayden saat Ale membalikkan badannya untuk masuk ke lobby.
“hah?”
“lo kan udah di sini sekarang, jadi lo ngga sendirian lagi”
Hayden menunjuk dirinya sendiri, “ada gue” lalu tersenyum tipis.
Mendengar itu membuat Ale senang. Setidaknya Ia tidak kesepian disini, apalagi ini New York—bukan Jakarta yang setiap sudutnya sudah Ale lewati dan banyak orang yang Ia kenal. Kota ini benar benar asing baginya, belum pernah Ia kunjungi sebelumnya. Tapi Ale mulai suka disini, Ia jatuh cinta dengan pemandangan dari balik jendela kamarnya dan jalanan kota saat malam hari.
“thanks for today ya, Kak” ujar Ale.
Diluar dugaan, Hayden malah bergidik jijik.
“jangan ngomong gitu, gue geli nyet”
“lo duluan ya yang jadi softie” protes Ale tidak mau kalah, “udah sana cepetan pulang lo”