Pintu apartment terdengar sedang berusaha dibuka oleh seseorang dari luar menggunakan password. Tidak lama kemudian seorang laki laki berperawakan tinggi tersebut menampakkan dirinya di ambang pintu dengan bawaan di tangan kanannya.
“babee” panggil Ryan dengan sedikit berteriak. Ia lalu melepas sepatunya dan masuk ke dalam ruang tamu.
“hey” balas si pemilik apartment tersebut begitu melihat kekasihnya datang. Natalie yang semula berada di dalam kamar kini keluar menyusul Ryan yang sudah berjalan ke pantry.
“i brought you this” Ryan meletakkan bawaannya ke atas meja. “i don't know pads kamu masih banyak atau engga, jadi aku beliin satu”
“just in case, hehehe” Ryan tertawa.
“terus ini, your favorite sour sally with mochi and cookie dough sauce” Ryan mengeluarkan box sterofoam dengan antusias, “i'll put it on your fridge”
Yang diajaknya bicara justru terlihat tidak bersemangat dan sendu. Pikirannya tidak mengarah ke sana sekarang, namun kearah dirinya sendiri.
Do i still deserve him? after everything i did behind his back with another guy. Itu yang ada dipikiran Natalie daritadi.
“eee ini apa ya tadi” Ryan membolak balikkan barang yang ada di tangannya, “oh this is an acne patch, kamu biasanya keluar jerawat dikin kalo lagi red days kan”
Natalie menghembuskan nafas pelan, “Ryan”
“yes babe?” tanya Ryan dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Ia menghentikan aktivitasnya.
“we need to talk” ujar Natalie pelan.
“alright, kenapa?”
Natalie melihat kebawah. Air matanya menetes seketika, “i'm sorry Ryan”
Senyum Ryan memudar, “hey, kenapa?”
“i know you'll be very disappointed with me but” kalimat yang akan dikeluarkan oleh Natalie seakan tertahan di mulutnya.
“kenapa? it's okay, just tell me” ya, Ryan tau apa yang akan dikatakan oleh Natalie.
“i'm seeing somebody else, Ry” sambung Natalie pelan.
“aku tau aku bego banget, beneran”
Ryan menampilkan senyuman di bibirnya, namun senyumnya getir kali ini. Terdapat jeda pada pembicaraan mereka. Natalie terlihat menahan air matanya meskipun sudah mengalir sedikit di pipinya.
“aku udah tau kok, Nat”
Jawaban Ryan membuat Natalie mengangkat wajahnya menatapnya.
“his name is Gio, right? Giorgio Evans anak FEB jurusan bisnis management?”
“waktu itu kamu bilang makan sama Lizzy di kantin fisip, tapi bukan sama Lizzy”
“you had lunch with Gio, right?”
“i'm so sorry Ryan” ujar Natalie lagi dengan perasaan bersalah yang sangat sangat besar di dalam dirinya, “aku ngga bisa nerusin ini lagi”
Meskipun Ryan sudah memperkirakan ini sebelumnya, perasaannya tetapi sedih mendengar perkataan Natalie.
“let's just end this here” Natalie menatap Ryan lekat lekat dengan hati yang hancur.
Ryan membuka topinya, menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jarinya. Jika semula Ia hanya tersenyum, kali ini Ryan malah terkekeh pelan. Dirinya merasa benar benar bodoh sekarang.
“i knew you wanna talk about this Nat” Ia mengusap wajahnya kasar, “yaudah, let's end this”
“Ryan”
“maaf” tangis Natalie tidak bisa dibendung lagi. Biasanya Ryan akan memeluknya, namun sekarang lelaki itu hanya diam ditempatnya—menopang badan dengan tangannya diatas meja.
“no it's okay, really” Ryan kembali memakai topi hitamnya. Emosinya mulai tidak bisa dikendalikan, tapi Ia tidak mau mengeluarkan amarahnya didepan Natalie.
“thankyou ya Nat, for being honest about this”
“i really appreciate your honesty, and i forgive you”
“i'm so glad to know you”
“but at the end, if we can't be together”
“then it's okay, that's fine” suaranya bergetar, Ryan terlihat kuat namun pikirannya sangat berantakan.
Ryan menatap kedua mata Natalie. Mungkin ini akan menjadi tatapan tulus terakhir darinya, “thankyou ya Nat for these past two years”
“aku pamit pulang dulu” Ryan berjalan pelan meninggalkan pantry. Langkahnya berat, tetapi penuh dengan keyakinan.
Jika dibilang marah, tentu saja. Ia bisa saja mengeluarkan banyak umpatan right in front of his girlfriend's face if he wants to. Tapi tidak, Ia tidak mau semakin membuat Natalie menangis karena bagaimana pun juga Ryan masih memiliki rasa sayang yang besar kepadanya.
“Ryan” panggil Natalie pelan begitu Ryan sudah akan keluar dari apartmentnya.
“can i hug you? for the last time”
Tanpa menunggu jawaban Ryan, Natalie langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Ia akan merindukannya meskipun sudah bersama Gio nantinya. Bayangkan saja, dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk keduanya. Banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama. Baik susah maupun senang, mereka melakukannya berdua.
Tangis Natalie pecah didalam dekapan Ryan. Laki laki itu langsung membalas pelukan mantan kekasihnya tanpa ada keraguan, mengusap punggung nya pelan dan penuh kesedihan.
“it's okay Nat”
“remember what I said waktu kita night drive ya”
“i hope you fine someone that is better than me, much much better than me”
“i hope Gio treats you well, i hope he can make you being the best version of yourself”
“i hope you love him for a long time”
“i love you so much” Ryan mengusap kepala Natalie pelan, sebelum Ia merenggangkan pelukannya.
“kamu juga ya Ry, find someone better than me”
“malah jangan nyari yang kayak aku, cari yang bener bener setia sama kamu doang” Natalie tersenyum getir.
“iya, i will Nat”