aeri

writing purpose for alternate universe

“halo” suara bariton terdengar dari ponsel Bianca. Sudah lama ia tidak mendengarnya.

“iya” jawab Bianca, “lo mau ngomong apa, Rey?”

“maaf, Ca” ujar Reynand dari balik telfon, “gue minta maaf”

Bianca tidak menjawab permintaan maaf dari Reynand begitupun sebaliknya, Reynand tidak melanjutkan pembicaraannya. Terdapat keheningan diantara keduanya. Bianca sudah tidak kesal sebenarnya, tetapi ia ingin mendengarkan Reynand memberi penjelasan kepadanya.

“gue takut Ca, gara gara gue sibuk ntar lo nyaman sama orang lain”

“gue juga minta maaf, gue ngga sempet bagi waktu buat lo” suara Reynand semakin merendah dan keluar tulus dari dalam hatinya. Ia tidak suka jika harus saling diam dengan Bianca.

“Rey, that's totally fine”

“it's okay, gue udah bilang kan kalo gue ngga masalah tentang itu? gue kesel soalnya lo nuduh macem macem, itu doang sih”

“iya Ca, maaf”

“it's okay” tegas Bianca lagi, “lo lagi apa?” Ia mengganti topik agar mereka tidak memutus panggilan begitu saja setelah sesi maaf maaf an ini.

“ini belajar, dari tadi abis makan malem” jawab Reynand, Ia tersenyum senang sebenarnya. Sayangnya Bianca tidak melihat.

“lo ngapain?”

“gue juga belajar sih, agak berat ya materinya” Bianca membolak balikkan bukunya.

“iya lumayan juga sih ini”

“ih lo aja yang pinter geo bilang lumayan susah, apalagi gue”

“gatau deh pusing” mendengar Bianca yang sedang menggerutu membuat Reynand semakin tersenyum.

“sinii mana yang gabisa?”

“gue ajarin sampe ke akar akarnya, mau sampe besok pagi?? boleh bolehh”

“lo aja ngga bisa nahan ngantuk, Rey”

“hadeh, apasih yang engga buat lo Ca” Reynand memulai pergombalan khas miliknya.

“okay okay stop, ajarin gue sekarang Rey”

“what about this?” Ale mencium sebentar wangi dari lilin yang ada di tangannya, lalu menyodorkannya kepada Brandon.

Brandon mendekatkan indera penciumannya ke benda berwarna pink muda di depannya, “it smells the same as the first one”

“hah masa sih?” Ale mencium kembali lilin yang sebelumnya Ia bau lalu tertawa, “oh iya”

“dude???” mata Brandon membesar lalu tertawa keras.

“bentar deh” Ale memeriksa lilinnya kembali, “lah iya ini juga jasmine kek yang tadi”

Tawa Brandon semakin kencang diiringi dengan tepukan tangan, “you are literally looking for another smells in the same placeEEee”

“nih liat, semuanya jasmine AlEee” Ale ikutan ketawa melihat Brandon yang sudah tidak terkontrol disebelahnya.

“kak please jangan ketawa lagi, i can't stop laughing too gara gara lo” Ale mengatur nafasnya.

“haduh okay, i'll stop”

Mereka berkeliling kembali, strolling around every corner of the candle shop. Sebelum mereka kesini, Ale berniat mengunjungi mall, sekalian berbelanja katanya. But Brandon told her that there will be a lot of people since it's almost winter break and christmas holiday. Ya gajadi akhirnya.

“this one smells good, Al” Ale menoleh ke asal suara Brandon yang berada dibelakang rak lilin tidak jauh dari Ale, “sini deh”

Ale meraih lilin berwarna putih dari tangan Brandon, “ih iya enak banget” Brandon ikut tersenyum begitu melihat reaksi senang Ale.

“i'll take this” Ale menuju ke kasir tanpa pikir panjang.

“where do you wanna go next?” tanya Brandon sambil ikut menunggi lilin yang dibeli Ale selesao dibungkus.

“i don't know, enaknya kemana?” tanya Ale balik.

Brandon masih memikirkan jawabannya, sementara barang yang Ale beli sudah selesai.

“actually, i really wanna go to times square kak” ujar Ale lagi, “is it far from here?”

“ee ngga terlalu sih, tiga puluh menit an” jawab Brandon sambil membantu Ale memegangkan tas nya agar ia bisa mengambil dompet didalamnya, “do you wanna go there?”

“sureeee, let's goooooo”

“what about this?” Ale mencium sebentar wangi dari lilin yang ada di tangannya, lalu menyodorkannya kepada Brandon.

Brandon mendekatkan indera penciumannya ke benda berwarna pink muda di depannya, “it smells the same as the first one”

“hah masa sih?” Ale mencium kembali lilin yang sebelumnya Ia bau lalu tertawa, “oh iya”

“dude???” mata Brandon membesar lalu tertawa keras.

“bentar deh” Ale memeriksa lilinnya kembali, “lah iya ini juga jasmine kek yang tadi”

Tawa Brandon semakin kencang diiringi dengan tepukan tangan, “you are literally looking for another smells in the same placeEEee”

“nih liat, semuanya jasmine AlEee” Ale ikutan ketawa melihat Brandon yang sudah tidak terkontrol disebelahnya.

“kak please jangan ketawa lagi, i can't stop laughing too gara gara lo” Ale mengatur nafasnya.

“haduh okay, i'll stop”

Mereka berkeliling kembali, strolling around every corner of the candle shop. Sebelum mereka kesini, Ale berniat mengunjungi mall, sekalian berbelanja katanya. But Brandon told her that there will be a lot of people since it's almost winter break and christmas holiday. Ya gajadi akhirnya.

“this one smells good, Al” Ale menoleh ke asal suara Brandon yang berada dibelakang rak lilin tidak jauh dari Ale, “sini deh”

Ale meraih lilin berwarna putih dari tangan Brandon, “ih iya enak banget” Brandon ikut tersenyum begitu melihat reaksi senang Ale.

“i'll take this” Ale menuju ke kasir tanpa pikir panjang.

“where do you wanna go next?” tanya Brandon sambil ikut menunggi lilin yang dibeli Ale selesao dibungkus.

“i don't know, enaknya kemana?” tanya Ale balik.

Brandon masih memikirkan jawabannya, sementara barang yang Ale beli sudah selesai.

“actually, i really wanna go to times square kak” ujar Ale lagi, “is it far from here?”

“ee ngga terlalu sih, tiga puluh menit an” jawab Brandon sambil membantu Ale memegangkan tas nya agar ia bisa mengambil dompet didalamnya, “do you wanna go there?”

“sureeee, let's goooooo”

Pintu apartment terdengar sedang berusaha dibuka oleh seseorang dari luar menggunakan password. Tidak lama kemudian seorang laki laki berperawakan tinggi tersebut menampakkan dirinya di ambang pintu dengan bawaan di tangan kanannya.

“babee” panggil Ryan dengan sedikit berteriak. Ia lalu melepas sepatunya dan masuk ke dalam ruang tamu.

“hey” balas si pemilik apartment tersebut begitu melihat kekasihnya datang. Natalie yang semula berada di dalam kamar kini keluar menyusul Ryan yang sudah berjalan ke pantry.

“i brought you this” Ryan meletakkan bawaannya ke atas meja. “i don't know pads kamu masih banyak atau engga, jadi aku beliin satu”

“just in case, hehehe” Ryan tertawa.

“terus ini, your favorite sour sally with mochi and cookie dough sauce” Ryan mengeluarkan box sterofoam dengan antusias, “i'll put it on your fridge”

Yang diajaknya bicara justru terlihat tidak bersemangat dan sendu. Pikirannya tidak mengarah ke sana sekarang, namun kearah dirinya sendiri.

Do i still deserve him? after everything i did behind his back with another guy. Itu yang ada dipikiran Natalie daritadi.

“eee ini apa ya tadi” Ryan membolak balikkan barang yang ada di tangannya, “oh this is an acne patch, kamu biasanya keluar jerawat dikin kalo lagi red days kan”

Natalie menghembuskan nafas pelan, “Ryan”

“yes babe?” tanya Ryan dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Ia menghentikan aktivitasnya.

“we need to talk” ujar Natalie pelan.

“alright, kenapa?”

Natalie melihat kebawah. Air matanya menetes seketika, “i'm sorry Ryan”

Senyum Ryan memudar, “hey, kenapa?”

“i know you'll be very disappointed with me but” kalimat yang akan dikeluarkan oleh Natalie seakan tertahan di mulutnya.

“kenapa? it's okay, just tell me” ya, Ryan tau apa yang akan dikatakan oleh Natalie.

“i'm seeing somebody else, Ry” sambung Natalie pelan.

“aku tau aku bego banget, beneran”

Ryan menampilkan senyuman di bibirnya, namun senyumnya getir kali ini. Terdapat jeda pada pembicaraan mereka. Natalie terlihat menahan air matanya meskipun sudah mengalir sedikit di pipinya.

“aku udah tau kok, Nat”

Jawaban Ryan membuat Natalie mengangkat wajahnya menatapnya.

“his name is Gio, right? Giorgio Evans anak FEB jurusan bisnis management?”

“waktu itu kamu bilang makan sama Lizzy di kantin fisip, tapi bukan sama Lizzy”

“you had lunch with Gio, right?”

“i'm so sorry Ryan” ujar Natalie lagi dengan perasaan bersalah yang sangat sangat besar di dalam dirinya, “aku ngga bisa nerusin ini lagi”

Meskipun Ryan sudah memperkirakan ini sebelumnya, perasaannya tetapi sedih mendengar perkataan Natalie.

“let's just end this here” Natalie menatap Ryan lekat lekat dengan hati yang hancur.

Ryan membuka topinya, menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jarinya. Jika semula Ia hanya tersenyum, kali ini Ryan malah terkekeh pelan. Dirinya merasa benar benar bodoh sekarang.

“i knew you wanna talk about this Nat” Ia mengusap wajahnya kasar, “yaudah, let's end this”

“Ryan”

“maaf” tangis Natalie tidak bisa dibendung lagi. Biasanya Ryan akan memeluknya, namun sekarang lelaki itu hanya diam ditempatnya—menopang badan dengan tangannya diatas meja.

“no it's okay, really” Ryan kembali memakai topi hitamnya. Emosinya mulai tidak bisa dikendalikan, tapi Ia tidak mau mengeluarkan amarahnya didepan Natalie.

“thankyou ya Nat, for being honest about this”

“i really appreciate your honesty, and i forgive you”

“i'm so glad to know you”

“but at the end, if we can't be together”

“then it's okay, that's fine” suaranya bergetar, Ryan terlihat kuat namun pikirannya sangat berantakan.

Ryan menatap kedua mata Natalie. Mungkin ini akan menjadi tatapan tulus terakhir darinya, “thankyou ya Nat for these past two years”

“aku pamit pulang dulu” Ryan berjalan pelan meninggalkan pantry. Langkahnya berat, tetapi penuh dengan keyakinan.

Jika dibilang marah, tentu saja. Ia bisa saja mengeluarkan banyak umpatan right in front of his girlfriend's face if he wants to. Tapi tidak, Ia tidak mau semakin membuat Natalie menangis karena bagaimana pun juga Ryan masih memiliki rasa sayang yang besar kepadanya.

“Ryan” panggil Natalie pelan begitu Ryan sudah akan keluar dari apartmentnya.

“can i hug you? for the last time”

Tanpa menunggu jawaban Ryan, Natalie langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Ia akan merindukannya meskipun sudah bersama Gio nantinya. Bayangkan saja, dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk keduanya. Banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama. Baik susah maupun senang, mereka melakukannya berdua.

Tangis Natalie pecah didalam dekapan Ryan. Laki laki itu langsung membalas pelukan mantan kekasihnya tanpa ada keraguan, mengusap punggung nya pelan dan penuh kesedihan.

“it's okay Nat”

“remember what I said waktu kita night drive ya”

“i hope you fine someone that is better than me, much much better than me”

“i hope Gio treats you well, i hope he can make you being the best version of yourself”

“i hope you love him for a long time”

“i love you so much” Ryan mengusap kepala Natalie pelan, sebelum Ia merenggangkan pelukannya.

“kamu juga ya Ry, find someone better than me”

“malah jangan nyari yang kayak aku, cari yang bener bener setia sama kamu doang” Natalie tersenyum getir.

“iya, i will Nat”

They two were stil sitting on the dining table. Ale mainin hp nya, sekedar scroll tiktok, sedangkan lelaki dua puluh tahun bernama Brandon di depannya serius menyimak penjelasan dosen. Ya jujur saja, sesekali Ale mencuri pandang melihat ke arahnya. He looked so attractive with that messy hair and his glasses on. Sesekali Brandon menyisir rambutnya kebelakang menggunakan tangannya, membuatnya seribu kali lebih tampan.

“oh my god, why is it taking so long” Brandon meregangkan otot tangannya. Ale langsung mengalihkan pandangannya dari Brandon agar tidak ketahuan.

“yes sir?” Brandon dipanggil oleh dosennya, membuat dirinya kembali berfokus ke layar laptopnya.

“ah okay, i'll check it twice after this” Brandon menghela nafas, lalu mengecek apa yang dilakukan Ale di depannya.

“does he speak with british accent?” tanya Ale sambil menunjuk laptop Brandon.

“iya, kedengeran banget ya bedanya?”

“banget, cepet lagi ngomongnya”

Brandon tersenyum tipis lalu menopang dagunya menghadap ke layar laptopnya lagi, “iya, i must take a lot of notes kalo lagi kelasnya dia”

“yaudah nyimak aja dulu, gue ke kamar bentar ya kak” Ale beranjak dari tempat duduk nya lalu bersin. Kepalanya masih sakit, jadi Ia memilih untuk tiduran di kasur.

“okay”


Semalam Ia baru bisa tidur jam dua dinihari, bangun dengan sakit kepala dan pilek. Tampaknya Ale masih jetlag mengingat ia baru tinggal tiga hari di New York.

Ale mengeluarkan gelas minum yang dibawanya ke kamar kemarin malam lalu berjalan ke pantry untuk mencuci piring, Ia melihat Brandon menutup laptopnya.

“is the class over?”

“yup, two hours feels like a day” Brandon melepaskan kacamatanya, dan lagi lagi mengacak acak rambutnya, “let me help you wash the dishes” Brandon berjalan menyusul Ale.

“tolong taruh di lemari atas ya kak, gue ngga nyampe” Ale memberikan beberapa buah piring agar Brandon bisa menaruhnya di lemari diatas kepalanya.

“disini?”

“yes, thankyou”

Lengan mereka tidak sengaja bersentuhan, “wait, kok anget tangan lo?” tanya Brandon.

“i think i had fever deh, but it's okat ntar tidur juga sembuh”

“wait wait” Brandon menata gelas didepannya dengan cepat lalu berjalan menuju ke tas nya di atas kursi meja makan, “i think i have a medicine for fever inside my bag” Ia mengambil strip obat, membukanya, dan kembali menghampiri Ale.

“nih Le, lo minum” Ale menerima kapsul obat berwarna putih tersebut dari Brandon.

“thankyou, kak”

Brandon mengacungkan jempolnya sambil tersenyum, “i'll go back home ya Le, my next class starts in twenty minutes”

“thanks for the breakfast too” Brandon menenteng tasnya lalu berjalan menuju pintu yang diikuti oleh Ale.

“no problem kak Brandon, thankyou juga hotpack sama obat nya” Ale berdiri depan rak sepatu, melambaikan tangan kepada Brandon.

“sure, get well soon ya Ale”

Walking down Queens Blvd is never a mistake. Udara hari ini bisa dibilang dingin namun sinar matahari masih bisa terasa, berbeda dengan cuaca di Indonesia yang terik dan panas di siang hari.

“eh kelasnya Prof. Dave masih ntar sore, right?” celetuk Hayden menoleh ke arah Warren.

Yang ditanya mengendikkan bahunya, “ngga tau deh gue, ga ikut subject nya dia”

“lo gimana Brand?” Hayden menoleh ke Brandon yang berjalan di belakangnya. “i didn't take his class” jawab Brandon.

“what? really?” Hayden tidak percaya dengan jawaban kedua temannya, “gue doang nih yang ambil?”

“lo ngapain ambil subject dia?” tanya Warren terkekeh pelan, “padahal terkenal susah banget anjrit”

“yaudah gue skip deh”

“HEH” Ale mendorong punggung Hayden, “enak aja skip skip lo”

Warren dan Brandon cekikikan secara bersamaan , “mampus lo”

“iya iya iyaa engGAAaa skip” Hayden kalah dari Ale jika seperti ini. Pasti adiknya akan mengadu kepada mamanya nanti.

“emang dia biasa kek gitu?” Ale menoleh ke Brandon di sebelahnya, “engga juga” jawab Brandon masih tertawa.

“ck, dasar”


“kenyang banget sih ini, enak lagi” Ale melahap satu sendok terakhir rendang di piringnya.

“soalnya lo gue bayarin ya anjrit” Hayden berdiri dari kursinya, “ bentar gue bayar dulu”

“habis banyak ini pasti, r i p my wallet eyy” Hayden membuka dompet nya lalu berjalan ke kasir. Sementara itu Warren pergi ke toilet.

Tinggalah hanya Ale dan Brandon di meja. Brandon menenggak es tehnya—tidak lupa mengunyah es batu di dalamnya, padahal ini musim dingin dengan suhu 7 derajat celcius di luar.

“from what i saw tadi ya kak, lo suka banget kek nya sama rendang” celetuk Ale.

“of course, who doesn't like rendang?”

“hayden”

“he is weird” jawab Brandon sambil mengangkat kedua alisnya. Hayden tidak menyentuk rendang sama sekali, ia hanya memakan sayur padang, ayam pop, dan udang balado.

“wanna go outside? it's kinda dark here” tawar Brandon yang diiyakan oleh Ale. Restoran memang barusaja buka, jadi banyak lampu yang belum sepenuhnya dinyalakan.

Kini mereka berdua berada diluar restoran, mengamati lalu lalang kendaraan yang lewat. Brandon membenarkan jaketnya lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“yok jalan” Warren dan Hayden menyusul keduanya keluar dari restoran khas Indonesia tersebut.

“how's your sleep? udah bisa nyesuaiin time zone sini belum?” tanya Brandon pada Ale. Nafasnya terlihat jelas mengepul di udara.

“gabisa sih, kemarin baru bener bener ngantuk jam tiga” jawab Ale sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, “tapi emang kalo di Indo itu waktu jam tidur siang gue sih, hehe”

Ale menggosok gosokkan kedua tangannya,Ia tampak kedinginan.

“i didn't expect New York City to be this cold”

“did you bring hotpack?” tanya Brandon menolsh memperhatikan gerakan tangan Ale.

“engga, gue belum beli”

Brandon mengeluarkan benda berbentuk persegi tersebut dari dalam saku jaketnya, “nih, tempelin ke tangan”

“what about you? do you have another one?” Ale menerima hotpack dari Brandon dengan ragu ragu.

“don't worry about me, gue bahkan tahan ngga pake jaket” jawab Brandon enteng.

“hah? really?”

Brandon tertawa, “engga heheh”

“udah pake aja nggapapa”

Sore hari di New York tampak begitu sibuk. Banyak orang yang baru saja pulang kantor, or maybe going out for dinner. There are a lot of restaurants and cafes along the Prospect Park West.

Ale terlihat menikmati donat yang ia bawa di tangannya, sementara itu Hayden sibuk dengan ponselnya.

Ia memperhatikan adiknya sekilas, “enak?”

Ale mengangguk cepat dengan donat yang masih digigitnya, “heem, this is the best donut i've ever had”

Hayden terkekeh, “mau kemana lagi?”

“let's just go back home, gue capek jalan jalan mulu dari pagi”

“yeee gitu tadi lo mau sampe malem, katanya mau ke fifth avenue” cibir Hayden, “gue gas in kalo lo mau”

“masih ada besok kali Den, besok aja kalo gue ngga mager”

“how are mom and dad?” Hayden mengubah topik pembicaraan, “masih sibuk kerja?” Hayden menarik tangan Ale agar berjalan tepat di zebracross.

“mami udah sering kerja di rumah, tapi papa masih sering pulang malem sih” Ale kemudian membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan diterpa angin.

“you know what”

“what?” Hayden menoleh ke Ale di sebelahnya.

“i didn't have someone to talk to since you were moving out” suara Ale merendah.

“lo tau ngga gue kalo curhat sama siapa?”

“faye lah?”

“ya iya sih, maksudnya kalo di rumah terus ngga lagi chatan sama dia”

“sama siapa?”

“sama kiku”

Tawa Hayden pecah, “is that your imaginary friend?”

“siapa kiku anjir?”

“boneka penguin yang lo kasih ituloh ah” jawab Ale kesal. Hayden masih tertawa geli mendengar Ale.

“ohh kirain”

Since his moving to New York for college last year, Ale didn't spend most of her time at home. She was busy hangout with Faye, sekedar jalan jalan di GI buying Sour Sally, watching the latest movies, or going to Starbucks for a venti cup of Caramel Java Chips Frappe. Tapi setelah pulang ke rumah, she still feel lonely. Kedua orangtuanya hampir tidak pernah dirumah. Ale sering makan di atas tempat tidurnya karena tidak ada yang duduk menemani nya menghabiskan makanan di meja makan besar kediamannya.

Mereka tidak melanjutkan percakapan lagi. Ale sibuk mengamati jalanan di sekitar yang terkesan baru untuknya. Ia mengambil beberapa foto, lalu tersenyum kecil setelah melihat hasilnya.

“eh lo kemarin sama Brandon gimana?”

“ga gimana gimana juga, he is cool and nice”

“awalnya awkward banget kak, tapi dia ngajakin gue ngomong terus” Ale tersenyum, lalu mengambil gambar dua ekor burung merpati yang bertengger di kursi taman tidak jauh dari Hayden.

Setelah puas dengan hasilnya, Ia memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya. Tangannya tetap berada didalamnya, menghindar dari dinginnya udara.

“he asked me about the major i chose, what's going on in Jakarta nowadays, then he took me to target for grocery shopping”

“gue lupa beliin nasi padang njir”

“ih iya, lo harus traktir dia kak, awas sampe engga ya” Ale mewanti wanti Hayden.

“iya besok aja, gue kelas siang an”

After walking for minutes, they stop right in front of Ale's apartment. The sun has turned to into the moon, and the street lights are starting to glow brightly along the Herald Blvd.

“gue ngga anterin lo sampe ke atas ya Le, i have to catch a train”

Ale mengangguk mengerti, “iya lo cepetan balik kak, dingin”

“yaudah, lo buruan masuk sana” pinta Hayden.

“eh Le by the way” seru Hayden saat Ale membalikkan badannya untuk masuk ke lobby.

“hah?”

“lo kan udah di sini sekarang, jadi lo ngga sendirian lagi”

Hayden menunjuk dirinya sendiri, “ada gue” lalu tersenyum tipis.

Mendengar itu membuat Ale senang. Setidaknya Ia tidak kesepian disini, apalagi ini New York—bukan Jakarta yang setiap sudutnya sudah Ale lewati dan banyak orang yang Ia kenal. Kota ini benar benar asing baginya, belum pernah Ia kunjungi sebelumnya. Tapi Ale mulai suka disini, Ia jatuh cinta dengan pemandangan dari balik jendela kamarnya dan jalanan kota saat malam hari.

“thanks for today ya, Kak” ujar Ale.

Diluar dugaan, Hayden malah bergidik jijik.

“jangan ngomong gitu, gue geli nyet”

“lo duluan ya yang jadi softie” protes Ale tidak mau kalah, “udah sana cepetan pulang lo”

Walking down Queens Blvd is never a mistake. Udara hari ini bisa dibilang dingin namun sinar matahari masih bisa terasa, berbeda dengan cuaca di Indonesia yang terik dan panas di siang hari.

“eh kelasnya Prof. Dave masih ntar sore, right?” celetuk Hayden menoleh ke arah Warren.

Yang ditanya mengendikkan bahunya, “ngga tau deh gue, ga ikut subject nya dia”

“lo gimana Brand?” Hayden menoleh ke Brandon yang berjalan di belakangnya. “i didn't take his class” jawab Brandon.

“what? really?” Hayden tidak percaya dengan jawaban kedua temannya, “gue doang nih yang ambil?”

“lo ngapain ambil subject dia?” tanya Warren terkekeh pelan, “padahal terkenal susah banget anjrit”

“yaudah gue skip deh”

“HEH” Ale mendorong punggung Hayden, “enak aja skip skip lo”

Warren dan Brandon cekikikan secara bersamaan , “mampus lo”

“iya iya iyaa engGAAaa skip” Hayden kalah dari Ale jika seperti ini. Pasti adiknya akan mengadu kepada mamanya nanti.

“emang dia biasa kek gitu?” Ale menoleh ke Brandon di sebelahnya, “engga juga” jawab Brandon masih tertawa.

“ck, dasar”


“kenyang banget sih ini, enak lagi” Ale melahap satu sendok terakhir rendang di piringnya.

“soalnya lo gue bayarin ya anjrit” Hayden berdiri dari kursinya, “ bentar gue bayar dulu”

“habis banyak ini pasti, r i p my wallet eyy” Hayden membuka dompet nya lalu berjalan ke kasir. Sementara itu Warren pergi ke toilet.

Tinggalah hanya Ale dan Brandon di meja. Brandon menenggak es tehnya—tidak lupa mengunyah es batu di dalamnya, padahal ini musim dingin dengan suhu 7 derajat celcius di luar.

“from what i saw tadi ya kak, lo suka banget kek nya sama rendang” celetuk Ale.

“of course, who doesn't like rendang?”

“hayden”

“he is weird” jawab Brandon sambil mengangkat kedua alisnya. Hayden tidak menyentuk rendang sama sekali, ia hanya memakan sayur padang, ayam pop, dan udang balado.

“wanna go outside? it's kinda dark here” tawar Brandon yang diiyakan oleh Ale. Restoran memang barusaja buka, jadi banyak lampu yang belum sepenuhnya dinyalakan.

Kini mereka berdua berada diluar restoran, mengamati lalu lalang kendaraan yang lewat. Brandon membenarkan jaketnya lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“yok jalan” Warren dan Hayden menyusul keduanya keluar dari restoran khas Indonesia tersebut.

“how's your sleep? udah bisa nyesuaiin time zone sini belum?” tanya Brandon pada Ale. Nafasnya terlihat jelas mengepul di udara.

“gabisa sih, kemarin baru bener bener ngantuk jam tiga” jawab Ale sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, “tapi emang kalo di Indo itu waktu jam tidur siang gue sih, hehe”

Ale menggosok gosokkan kedua tangannya,Ia tampak kedinginan.

“i didn't expect New York City to be this cold”

“did you bring hotpack?” tanya Brandon menolsh memperhatikan gerakan tangan Ale.

“engga, gue belum beli”

Brandon mengeluarkan benda berbentuk persegi tersebut dari dalam saku jaketnya, “nih, tempelin ke tangan”

“what about you? do you have another one?” Ale menerima hotpack dari Brandon dengan ragu ragu.

“don't worry about me, gue bahkan tahan ngga pake jaket” jawab Brandon enteng.

“hah? really?”

Brandon tertawa, “engga heheh”

“udah pake aja nggapapa”

Walking down Queens Blvd is never a mistake. Udara hari ini bisa dibilang dingin namun sinar matahari masih bisa terasa, berbeda dengan cuaca di Indonesia yang terik dan panas di siang hari.

“eh kelasnya Prof. Dave masih ntar sore, right?” celetuk Hayden menoleh ke arah Warren.

Yang ditanya mengendikkan bahunya, “ngga tau deh gue, ga ikut subject nya dia”

“lo gimana Brand?” Hayden menoleh ke Brandon yang berjalan di belakangnya. “i didn't take his class” jawab Brandon.

“what? really?” Hayden tidak percaya dengan jawaban kedua temannya, “gue doang nih yang ambil?”

“lo ngapain ambil subject dia?” tanya Warren terkekeh pelan, “padahal terkenal susah banget anjrit”

“yaudah gue skip deh”

“HEH” Ale mendorong punggung Hayden, “enak aja skip skip lo”

Warren dan Brandon cekikikan secara bersamaan , “mampus lo”

“iya iya iyaa engGAAaa skip” Hayden kalah dari Ale jika seperti ini. Pasti adiknya akan mengadu kepada mamanya nanti.

“emang dia biasa kek gitu?” Ale menoleh ke Brandon di sebelahnya, “engga juga” jawab Brandon masih tertawa.

“ck, dasar”

“kenyang banget sih ini, enak lagi” Ale melahap satu sendok terakhir rendang di piringnya.

“soalnya lo gue bayarin ya anjrit” Hayden berdiri dari kursinya, “ bentar gue bayar dulu”

“habis banyak ini pasti, r i p my wallet eyy” Hayden membuka dompet nya lalu berjalan ke kasir. Sementara itu Warren pergi ke toilet.

Tinggalah hanya Ale dan Brandon di meja. Brandon menenggak es tehnya—tidak lupa mengunyah es batu di dalamnya, padahal ini musim dingin dengan suhu 7 derajat celcius di luar.

“from what i saw tadi ya kak, lo suka banget kek nya sama rendang” celetuk Ale.

“of course, who doesn't like rendang?”

“hayden”

“he is weird” jawab Brandon sambil mengangkat kedua alisnya. Hayden tidak menyentuk rendang sama sekali, ia hanya memakan sayur padang, ayam pop, dan udang balado.

“wanna go outside? it's kinda dark here” tawar Brandon yang diiyakan oleh Ale. Restoran memang barusaja buka, jadi banyak lampu yang belum sepenuhnya dinyalakan.

Kini mereka berdua berada diluar restoran, mengamati lalu lalang kendaraan yang lewat. Brandon membenarkan jaketnya lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“yok jalan” Warren dan Hayden menyusul keduanya keluar dari restoran khas Indonesia tersebut.

“how's your sleep? udah bisa nyesuaiin time zone sini belum?” tanya Brandon pada Ale. Nafasnya terlihat jelas mengepul di udara.

“gabisa sih, kemarin baru bener bener ngantuk jam tiga” jawab Ale sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, “tapi emang kalo di Indo itu waktu jam tidur siang gue sih, hehe”

Ale menggosok gosokkan kedua tangannya,Ia tampak kedinginan.

“i didn't expect New York City to be this cold”

“did you bring hotpack?” tanya Brandon menolsh memperhatikan gerakan tangan Ale.

“engga, gue belum beli”

Brandon mengeluarkan benda berbentuk persegi tersebut dari dalam saku jaketnya, “nih, tempelin ke tangan”

“what about you? do you have another one?” Ale menerima hotpack dari Brandon dengan ragu ragu.

“don't worry about me, gue bahkan tahan ngga pake jaket” jawab Brandon enteng.

“hah? really?”

Brandon tertawa, “engga heheh”

“udah pake aja nggapapa”

Sore hari di New York tampak begitu sibuk. Banyak orang yang baru saja pulang kantor, or maybe going out for dinner. There are a lot of restaurants and cafes along the Prospect Park West.

Ale terlihat menikmati donat yang ia bawa di tangannya, sementara itu Hayden sibuk dengan ponselnya.

Ia memperhatikan adiknya sekilas, “enak?”

Ale mengangguk cepat dengan donat yang masih digigitnya, “heem, this is the best donut i've ever had”

Hayden terkekeh, “mau kemana lagi?”

“let's just go back home, gue capek jalan jalan mulu dari pagi”

“yeee gitu tadi lo mau sampe malem, katanya mau ke fifth avenue” cibir Hayden, “gue gas in kalo lo mau”

“masih ada besok kali Den, besok aja kalo gue ngga mager”

“how are mom and dad?” Hayden mengubah topik pembicaraan, “masih sibuk kerja?” Hayden menarik tangan Ale agar berjalan tepat di zebracross.

“mami udah sering kerja di rumah, tapi papa masih sering pulang malem sih” Ale kemudian membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan diterpa angin.

“you know what”

“what?” Hayden menoleh ke Ale di sebelahnya.

“i didn't have someone to talk to since you were moving out” suara Ale merendah.

“lo tau ngga gue kalo curhat sama siapa?”

“faye lah?”

“ya iya sih, maksudnya kalo di rumah terus ngga lagi chatan sama dia”

“sama siapa?”

“sama kiku”

Tawa Hayden pecah, “is that your imaginary friend?”

“siapa kiku anjir?”

“boneka penguin yang lo kasih ituloh ah” jawab Ale kesal. Hayden masih tertawa geli mendengar Ale.

“ohh kirain”

Since his moving to New York for college last year, Ale didn't spend most of her time at home. She was busy hangout with Faye, sekedar jalan jalan di GI buying Sour Sally, watching the latest movies, or going to Starbucks for a venti cup of Caramel Java Chips Frappe. Tapi setelah pulang ke rumah, she still feel lonely. Kedua orangtuanya hampir tidak pernah dirumah. Ale sering makan di atas tempat tidurnya karena tidak ada yang duduk menemani nya menghabiskan makanan di meja makan besar kediamannya.

Mereka tidak melanjutkan percakapan lagi. Ale sibuk mengamati jalanan di sekitar yang terkesan baru untuknya. Ia mengambil beberapa foto, lalu tersenyum kecil setelah melihat hasilnya.

“eh lo kemarin sama Brandon gimana?”

“ga gimana gimana juga, he is cool and nice”

“awalnya awkward banget kak, tapi dia ngajakin gue ngomong terus” Ale tersenyum, lalu mengambil gambar dua ekor burung merpati yang bertengger di kursi taman tidak jauh dari Hayden.

Setelah puas dengan hasilnya, Ia memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya. Tangannya tetap berada didalamnya, menghindar dari dinginnya udara.

“he asked me about the major i chose, what's going on in Jakarta nowadays, then he took me to target for grocery shopping”

“gue lupa beliin nasi padang njir”

“ih iya, lo harus traktir dia kak, awas sampe engga ya” Ale mewanti wanti Hayden.

“iya besok aja, gue kelas siang an”

After walking for minutes, they stop right in front of Ale's apartment. The sun has turned to into the moon, and the street lights are starting to glow brightly along the Herald Blvd.

“gue ngga anterin lo sampe ke atas ya Le, i have to catch a train”

Ale mengangguk mengerti, “iya lo cepetan balik kak, dingin”

“yaudah, lo buruan masuk sana” pinta Hayden.

“eh Le by the way” seru Hayden saat Ale membalikkan badannya untuk masuk ke lobby.

“hah?”

“lo kan udah di sini sekarang, jadi lo ngga sendirian lagi”

Hayden menunjuk dirinya sendiri, “ada gue” lalu tersenyum tipis.

Mendengar itu membuat Ale senang. Setidaknya Ia tidak kesepian disini, apalagi ini New York—bukan Jakarta yang setiap sudutnya sudah Ale lewati dan banyak orang yang Ia kenal. Kota ini benar benar asing baginya, belum pernah Ia kunjungi sebelumnya. Tapi Ale mulai suka disini, Ia jatuh cinta dengan pemandangan dari balik jendela kamarnya dan jalanan kota saat malam hari.

“thanks for today ya, Kak” ujar Ale.

Diluar dugaan, Hayden malah bergidik jijik.

“jangan ngomong gitu, gue geli nyet”

“lo duluan ya yang jadi softie” protes Ale tidak mau kalah, “udah sana cepetan pulang lo”